Pensil
Pensil, kita semua paham sekali, adalah sebuah alat tulis sederhana, sejak dulu hingga kini. Mari kita amati sejenak dari sudut yang berbeda;
Pertama;
Pensil dapat membuahkan hal-hal besar dan luar biasa, gambar maupun tulisan. Namun ternyata yang terpenting adalah tangan yang menggerakkannya. Begitu pula kehidupan. Siapapun, dimanapun, kapanpun, selalu ada tangan yang menggerakkan kehidupan. Kalangan agama menyebutnya Tuhan. TanganNYA-lah yg selalu menuntun hidup kita, apapun hasilnya, menyenangkan atau tidak.
Kedua;
Ketika tumpul, pensil perlu di-raut agar tulisan jadi lebih nyata. Begitu pula hidup, sesaat hadir penderitaan bak pensil ketika diraut. Setelah melewatinya, kita dibekali pengetahuan, makin menghargai kebahagiaan sekecil apapun itu. Kita pun lantas mampu berdiri lebih kuat. Penderitaan dan kebahagiaan memang selalu datang silih berganti sebagaimana siang dan malam, panas dan dingin, gelap dan terang.
Ketiga;
Ketika kesalahan terjadi, Pensil menyediakan penghapus untuk memperbaikinya. Begitu di perjalanan hidup kita, di keseharian kita. Kesalahan demi kesalahan terjadi, dan itu bukan sebuah malapetaka. Paling tidak ketika kita berbuat salah, artinya kita telah melakukan sesuatu. Dan takut berbuat salah adalah takut untuk berbuat. Dan hasilnya hanya membuahkan kebodohan intelektual
Keempat;
Bagi sebuah Pensil, hal terpenting bukanlah hiasan cat warna-warni keemasan di atasnya, namun graphite hitam di dalamnya. Bukan jeans Levis atau lainnya, sepatu kluaran itali apa bukan atau jam tangan Rolex atau bukan, tapi cara pandang & perilaku kita jauh lebih penting dari semua itu.
Kelima;
Ketika digunakan, pensil selalu meninggalkan bekas berupa tulisan dan atau gambar. Tinggalkanlah tulisan dan gambar yg bagus agar bermanfaat bagi sesama.
sumber: Like the Flowing River, by Paulo Coelho (diambil dari bagong.dagdigdug.com)